Tampilkan postingan dengan label sebuah_cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebuah_cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2022

Kenapa Gue Menghormati dan Menghargai Teman Gue

17.08

 


 

Servus!

 

Manusia adalah makhluk sosial. Fitrahnya kita harus bersosialisasi, bukan hanya ketika ada kepentingan tertentu, tapi lebih dasar lagi adalah untuk menjaga kewarasan kita. Makanya ada salah satu bentuk hukuman di penjara, gue nonton di film hollywood, di mana si napi dimasukkan ke dalam ruang isolasi tatkala dia berulah melanggar peraturan penjara. Hukuman semacam itu bukan tanpa maksud. Tidak berinteraksi dengan orang lain untuk waktu yang lama, apalagi orang-orang terdekat kita, bisa membuat kita stress. Bisa kita ambil banyak contoh selama masa pandemi ini. Mobilitas kita dibatasi sehingga akhirnya pada sambat di media sosial, mengeluhkan rindu untuk berkumpul dan kongkow-kongkow normal seperti masa sebelum pandemi. Semoga pandemi segera berlalu, yaa! Amin yaa robbal alamin.

Menjalin komunikasi penting untuk setiap manusia. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, dengan berbagai macam bahasa yang penting kita dan lawan bicara sama-sama paham tentang apa yang sedang dibicarakan. Bahkan, beberapa dari proses komunikasi tersebut ada yang menghasilkan sebuah kedekatan dengan kadar yang lebih tinggi daripada yang lain sehingga muncullah orang-orang yang kita anggap teman. Teman adalah orang-orang yang memiliki tempat spesial di hati setiap orang sehingga gak aneh kalau lagunya Project Pop yang judulnya "Ingatlah Hari Ini" hampir pasti akan dinyanyikan serempak ketika acara perpisahan atau malam keakraban. Itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi dan ekspresi kasih sayang kita untuk teman-teman kita.

Keakraban yang terjalin menurut gue adalah sebuah hubungan timbal balik antara kita dan teman kita. Hubungan dua arah. Terdengar seperti transaksional atau gak ikhlas. Ini bukan soal ikhlas atau gak ikhlas, Bung. Apa lo gak malu ketika lo mengaku temannya si A, lalu si A ternyata tidak mengakui bahwa lo adalah temannya? Sering terjadi ketika tingkah lo malu-maluin sehingga bikin temen lo males ngakuin lo temennya. Cobain aja lo main ke Starbucks terus lo di sana naik ke atas meja dan bacain visi misi koperasi. Kalau masih diizinin duduk semeja masih syukur lo. wk

Pertemanan adalah hubungan dua arah. Keduanya harus saling mengakui. Pertemanan bubar ketika salah satu pihak sudah gak mengakui lagi. Makdarit, kita senantiasa berusaha untuk merawat pertemanan kita. Hebat banget bahkan ada yang berteman berpuluh-puluh tahun dari muda sampai oma opa. Namun, kedekatan yang sudah terjalin kadang kala membuat kita berlebihan dalam bersikap atau berucap. Menganggap bahwa teman sejati adalah yang sudah pasti menerima kekurangan kita. Berangkat dari anggapan tersebut kita jadi mengacuhkan tata krama terhadap teman. Tanpa lo sadari mungkin sebenernya lo sering banget bikin teman-teman lo KZL. Lo gak sadar, karena lo merasa hubungan lo sama si A baik-baik aja. Kenapa bisa gitu?

Menurut anabel (analisa gembel) gue hal itu bisa terjadi akibat adanya pengorbanan dari semua temen-temen lo. Gue menyadari that my friends put a lot of efforts to befriend me. Temen-temen gue tuh berusaha dan berkorban demi temenan sama gue. Dih, berasa R**a A**p gue. heu

Anyway, temen-temen lo masih bertahan sampai sekarang bukan karena kelakuan baik kita yang bagai malaikat. Kita masih punya temen karena mereka berkorban buat kita, baik itu tenaga, pikiran, dan perasaan. Mereka menurunkan ego pribadi untuk mentoleransi beberapa kelakuan-kelakuan kita yang kadang surem banget. Gimana enggak? Bayangin sekali waktu kita janjian sama temen kita pukul 14 WIB, tapi kita datengnya pukul 16 WIB. Apa dia gak gedek? Iyasih, dia berucap bahwa dia maafin kita. Tapi, memangnya maafin gak butuh tenaga dan usaha?

Itulah alasannya kenapa gue sangat sayang dan menghargai temen-temen gue. Apalagi sahabat. Karena gue sadar betapa besarnya "pengorbanan" mereka yang memilih untuk tetap menemani gue, tanpa pernah hitung-hitung berapa "pengorbanan" yang pernah mereka keluarin demi pertemanan ini. Sedikit melankolis, ya. Tapi beneran, deh. Coba lo bayangin dan resapin kalimat gue. Kadang tuh gue suka sedih, kenapa ya kelakuan gue kaya @*6%##|. Tapi temen gue pada baik-baik banget sama gue, sampai hari ini pada masih mau temenan sama gue. Makasih ya, kawan-kawanku! :")

Insya Allah gue pun akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan kebaikan minimal yang setimpal dengan yang udah kalian lakuin buat gue. Kalau bisa mah gue lebihin deh, lo ambil aje kembaliannya. Ikhlas gue.
 

Jangan lupa matiin lilin kalau lampu udah nyala lagi! 

 

Sekian.

 

( Photo by Womanizer Toys on Unsplash )

Rabu, 13 Desember 2017

Halu di Kendaraan Umum

20.57


Servus!

Berkendara menggunakan kendaraan umum jadi hal asing bagi sebagian orang, namun jadi sahabat karib bagi sebagian lain. Banyak faktor yang jadi alasan untuk menghindari transportasi ini, diantaranya kenyamanan dan waktu tempuh yang kadang tidak menentu. Lebih jauh lagi sistem pengelolaan yang bisa dikritisi bersama. Terlepas dari hal-hal tersebut, gw punya cerita unik tersendiri tentang pengalaman menggunakan transportasi publik.

Selama tinggal di Indonesia gw mengingat gak terlalu sering naik kendaraan umum. Alasannya karena emang jarang bepergian, cuma sekolah rumah dan malam minggu di sekitaran kota bogor. Sewaktu SMA alhamdulillah gw dikasih kendaraan motor supra x legendaris. Kota Bogor yang luasnya gak seberapa membuat gw memutuskan lebih sering naik motor sebagai sarana transportasi daripada naik kendaraan umum.

Babak baru kehidupan gw dimulai dengan kepindahan gw ke Berlin untuk melanjutkan studi. Berstatus sebagai mahasiswa di Berlin diuntungkan dengan Semestertiket, tiket untuk naik transportasi publik (Kereta, Subway, Bus dan Tram) 24/7 gratis selama 1 Semester. Pilihan sempurna buat gw yang gak punya banyak dana untuk beli kendaraan pribadi. 

Ada keunikan yang gw rasain selama 5 tahun menjadi pelanggan setia transportasi umum di Berlin. Macam-macam manusia berbagai ras, suku, agama dan bahasa bercampur disitu. Tingkah polah yang jauh berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia menjadi seru untuk diamati. Menurut gw, secara psikologis dan sosial ada keuntungan bagi orang yang sering naik transportasi publik.

Pertama, kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Melihat orang yang bermacam-macam, termasuk dari segi kemampuan finansial, membuat kita lebih bersyukur dengan kondisi kita sekarang. Kadang rezeki itu gak melulu soal materi, punya kaki yang kuat untuk berdiri adalah sesuatu yang sangat mahal bagi saudara yang harus duduk di atas kursi roda. Jangankan kaki, hidung yang gak tersumbat karena flu aja udah enak banget. Efeknya jadi orang ahli bersyukur dan bisa menurunkan kadar kesombongan karena kelebihan materi yang dipunya. 

Kedua, secara gak sadar berada di jalur fantasi dan inspirasi. Angkat kepala hindarkan mata dari smartphone. Lihat keadaan sekitar. Inspirasi datangnya dari segala penjuru arah bukan? Selain itu kita menjadi punya waktu lebih untuk menyelesaikan pekerjaan atau mungkin bacaan yang udah tertunda lama. 

Ketiga, kemungkinan dapat rezeki. Duduk berdampingan dengan berbagai macam orang dan latar belakang memberikan kita peluang menambah koneksi. Hal yang mungkin menurut kita jarang dan hampir mustahil terjadi. Tapi hampir mustahil belum berarti tidak bisa terjadi. Belum lagi kalau gak sengaja ketemu dengan kawan atau kolega lama yang sudah bertahun gak ketemu. Silaturahim terjalin lagi sehingga tukar pengalaman dan informasi jadi tak terhindarkan.

Itulah secuil cerita unik dari penuh dan sesaknya transportasi umum. Pengelolaan yang profesional dan terpadu menjadi mimpi kita semua, sehingga kecenderungan menggunakan kendaraan pribadi bisa menurun di masa yang akan datang. Mari biasakan untuk sesekali naik transportasi umum, kawan baru sudah menanti! Jangan lupa tap tiket sebelum naik KRL!


Sekian.

Photo by James Best on Unsplash

Kamis, 07 Desember 2017

Perlunya Piknik

10.14
   

Servus!

Piknik sejatinya adalah kegiatan untuk bersenang-senang sambil membawa bekal makanan dan sebagainya. Belakangan piknik dipakai oleh warganet dalam konteks berbeda. Konteks yang sering muncul adalah ketika orang ngomongnya udah mulai ngelantur, biasanya dia disuruh piknik dulu supaya otaknya dapet penyegaran dengan harapan ngomongnya jadi gak ngelantur lagi. Kurang lebih kaya gitu sih yang gw pahamin. CMIIW.

Piknik penting buat orang yang "Fanatik" terhadap sesuatu. Menurut gw. Fanatik adalah sesuatu yang sangat kuat, dalam hal kepercayaan atau kecintaan terhadap sesuatu. Menjadi bahaya ketika seorang yang fanatik kemudian mencela golongan yang lain. Lebih bahaya lagi ketika udah sampai tahap dimana semua yang dihasilkan oleh kelompoknya dianggap mutlak kebenarannya. Wah ini serem menurut gw.

Misalkan, gw suka sama sebuah klub sepak bola. Biasanya sebuah klub sepak bola punya basis fans dan juga rival. Sebutlah sebagai contoh Real Madrid bersaing dengan Barcelona, Persija bersaing dengan Persib dll.  Namanya sebuah perkumpulan pastilah ada pemimpinnya. Andaikata gw fanatik, semua pernyataan yang muncul dari kubu supporter tim favorit gw, gw anggep bener dan sisanya salah. Lebih celaka lagi kalau gw menganggap serta merta yang disampaikan oleh pemimpin itu bener dan gw nurut-nurut aja. Yang seperti ini bahaya, cuy.

Peran piknik disini menjadi penting supaya lo tahu dan bisa melihat kehidupan dari sisi lain. Efeknya bisa memperkaya wawasan dan lebih membuka pikiran lo dalam menyikapi sesuatu. Suka atau menginduk kepada sebuah perkumpulan adalah hal yang wajar, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan yang lainnya. Yang disayangkan adalah ketika saling mencela hanya karena ada perbedaan antara induk yang menaungi seseorang dengan induk-induk yang lain. Prinsip diri sendiri harus tetap dijunjung dalam koridor masih menghormati prinsip orang lain. Jangan lupa bawa minum kalau pergi piknik!

Sekian.

(Photo by Rob Bye on Unsplash)

Rabu, 09 Agustus 2017

Sekalinya Muncul, Langsung Ngerepotin!

09.58


Servus!

"Ah! Dia mah muncul kalau lagi butuh doang, abis itu juga cabut lagi".

"Pas gw butuh mana dia nongol? dulu pas dia susah gw tuh yang selalu siap bantuin!". 

Sering banget denger atau baca. Bahkan udah kelewat sering sampe bosen dan berujung resah. Gw ngerasa udah familiar banget sama yang barusan.  Mungkin lo semua juga udah sering banget denger kalimat barusan, yang biasanya keluar dari mulut kawan kita yang lagi sensi sama orang yang menurut dia muncul ketika pas ada butuhnya doang, selebihnya ngilang kayak ninja. Bener gak sih? Share di komentar ya kalo pernah punya pengalaman yang sama :D

Kalo kita cermatin nih ya, sebenernya inti dari contoh kecil diatas adalah tolong menolong. Si A minta tolong si B. Si B pada waktu itu siap siaga banget bantuin si A yang butuh pertolongan. Semua berjalan baik-baik aja. Gak ada masalah. Gak ada yang protes. Di lain waktu si A minta tolong lagi sama si B karena dia kebetulan ada masalah lagi. Gw gatau nih, entah emang idupnya si A banyak cobaan atau dianya sendiri yang bawa bala. Idupnya banyak masalah. Gw kurang tau tuh :/ . Sampe di suatu waktu si B sadar, si A kok kayak jarang nongol lagi. Otomatis otaknya nge-recall semua momen yang berhubungan kemunculan si A. Terang aja yang keinget adalah saat dimana si A butuh bantuan, minta tolong ke si B dan si B dengan sigap bantuin si A. Sekarang situasi berbalik, si B butuh bantuan si A, tapi si A udah ngilang gak tau kemana. Inilah awal mulanya.

Si B mulai bete. Dia kesel kenapa pas dulu si A butuh bantuan si B selalu ada. Seolah si B jadi tujuan utama kalo si A kebetulan lagi ada masalah. Pas giliran si B yang butuh si A malah ngilang. Lebih mirip kaya dia tiba-tiba jadi budeg, gak mau dengerin keluhan si B. Mirip lah sama wakil rakyat yang mendadak budeg ketika udah terpilih, gak mau lagi dengerin keluhan rakyat. Asek.

Dulu gw diajarin dalam urusan tolong menolong gak boleh ada kata pamrih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata pamrih adalah 

maksud yang tersembunyi dalam memenuhi keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi

Poin yang ingin ditanamkan dahulu adalah kita harus menolong sesama, yang membutuhkan pertolongan dengan tanpa pamrih. Artinya ya harus ikhlas. Maknanya sama aja kaya gak boleh ngarepin sesuatu sebagai imbalan atas pertolongan yang udah kita kasih kepada orang lain. Sayang, teori gak selalu gampang kalo udah masuk hal penerapan. Yang kadang gw pertanyakan adalah, apakah teorinya yang memang terlalu sulit, atau kita yang sebenernya belum 100% paham teori tersebut? 

Menurut gw, ada sedikit salah paham. Dalam hal ini pemahaman tentang hal menolong, dan dimintain tolong. Buktinya curahan-curahan hati seperti yang gw contohkan di awal. Kalo emang menolong orang lain itu harus ikhlas, kenapa kita sewot ketika seseorang yang dulu pernah kita tolong kemudian berhalangan untuk membantu kita yang sedang butuh pertolongan. Harusnya santai aja dong. Kan gak ngarepin apa-apa.

Yang perlu dipahamin pertama adalah hakikat pertolongan itu sendiri. Gimana sih kok sampe ada orang yang mau bantuin kita. Menurut pendapat gw, semua yang terjadi di dunia ini udah ada yang ngatur. Termasuk dalam hal kapan doa kita dijawab ketika butuh pertolongan. Jawaban doa kita atas semua masalah pun caranya selalu misterius dan datangnya dari arah yang tak terduga. Yang lebih misterius lagi adalah medium untuk menyampaikan pertolongan tersebut. Contohnya, kita lagi butuh uang untuk keperluan pribadi. Cukup mendesak tapi uang yang kita punya gak cukup. Bentuk bantuan yang kita butuhkan pada saat itu adalah berupa uang. Gak mungkin dong pas kita bangun tidur tiba-tiba udah ada uang segepok di bawah bantal. Rada gak logis ya. Tapi bisa jadi ketika lagi jalan ke warung mau beli sabun, tiba-tiba ketemu tetangga blok sebelah, terus ngobrol-ngobrol dan ternyata dia abis menang arisan. Ada uang lebih. Karena waktu kecil suka main bola bareng, akhirnya kawan kecil lo ini minjemin duit sejumlah yang kita butuh untuk nutupin kekurangan. Sebuah kebetulan yang kebetulan banget, tapi masih lebih logis dan lebih mungkin terjadi daripada tiba-tiba nemu uang segepok di bawah bantal pas bangun tidur. Caranya misterius dan mediumnya pun sama. Intinya kita dapet pertolongan tepat di waktu yang tepat. 

Coba sekarang kita liat si kawan kecil ini yang tiba-tiba mau ngasih pinjem. Padahal nongkrong bareng aja udah gak pernah lagi semenjak puber. Orang kaya pun menurut gw masih banyak yang pelit ke orang lain yang sedang membutuhkan, nah ini si kawan kecil yang hartanya gak seberapa tapi kok bisa dengan lapang dada ngasih pinjeman berupa uang. Pasti ada sesuatu nih. Hati manusia itu ada yang membolak-balik. Keikhlasan dan empati itu urusannya hati. Harusnya kalau mau dapetin bantuan, kita harus bisa "menyerang" tepat di hatinya orang tersebut sehingga dia tergerak untuk ngasih bantuan. Tapi gw gak yakin pas kita ketemu sama temen lama gitu terus cerita sampe nangis-nangis, lebay gitu biar dapetin simpati. Di warung lagi. Yakeles. Pasti ngobrol seadanya dengan gesture yang normal. Nah terus kenapa si kawan kecil ini langsung berinisiatif buat bantu? Inilah pertolongan yang datangnya dari arah tak terduga lewat medium yang sama misteriusnya. Menurut lo sebuah kebetulan? Skenario yang terlalu cantik kalo mengingat ini kehidupan nyata, bukan sinetron atau film yang bisa diatur-atur jalan ceritanya supaya cantik. 


Dari ilustrasi di atas pelajaran yang bisa diambil adalah semua yang terjadi di dunia ini lebih dari sekedar kebetulan, tapi udah diatur. Menjadi kebetulan karena keterbatasan nalar dan daya imajinasi kita untuk menerka masa depan. 

Kalau sepakat, bisa kita lanjutin ke poin selanjutnya. Kita udah satu frekuensi bahwa yang terjadi dalam hal tolong menolong gak lebih dr jawaban atas masalah yang kita hadapi melalui medium tertentu. Harusnya kita ngeliat hal ini melebihi si mediumnya. Jangan berhenti di mediumnya. Bukan berarti gak tau terima kasih. Kasih penghargaan setinggi-tingginya untuk orang yang udah bantuin kita, tp jangan kemudian memberi "gelar" berlebihan untuk seseorang karena dia selalu bantuin kita. Kalau itu kejadiannya, ya berarti emang dia aja yang lagi jadi medium turunnya bantuan buat kita. 

Begitupun kalau kita ngebantuin orang lain. Jangan niatnya hanya sebatas bantuin orang itu, tapi liat lebih jauh lagi. Kita bantuin orang karena kita mau melakukan amal shaleh. Kita ngebantu orang karena gw butuh dibantu juga sama orang. Entah sama dia yang pernah kita bantu, atau sama orang lain yang beneran random.  Dan kalau orang minta tolong ke kita, harusnya bersyukur aja ternyata orang lain masih inget sama kita. Kita "dianggep" di hidupnya dia. Kita dikasih kesempatan untuk beramal. Jangan buru-buru menggerutu, ini orang ngilang pas lagi butuh aja nongol. Ya kalau ngeliatnya pake perspektif lama, yang ada lo bakal capek sendiri. Baper mulu. Sewot mulu. Gak capek apa?

Kalau kita ngeliat hal tolong menolong dengan perspektif yang barusan gw tawarin, insya Allah hidup lo jadi lebih ringan, karena gausah mikirin dan baper karena orang yang menurut kita gatau bales budi. Simpel aja. Kalau lo dimintain tolong, berarti lo lagi ditunjuk jadi medium. Kalo lo ditolong sama seseorang, berarti orang itu lagi jadi medium datengnya pertolongan. 

Semoga perspektif baru dari gw memperkaya sudut pandang kita dalam menyikapi sesuatu. Boleh share pengalaman atau pendapatnya kalau ada :)

Jangan lupa bayar pas abis turun angkot!

Sekian.

credit: Photo by Annie Spratt on Unsplash

Selasa, 07 Oktober 2014

Tentang Sahabat dan Mimpinya

20.32
Berlin, 7 Oktober 2014
Tenda Biru

Servus !



Ini ceritanya gua baru balik gitu seminggu yang lalu dari IndONEnesia ! kaya summer holiday gitu, lumayan lah 1 bulan setengah menetap di IndONEsia, tepatnya di kota Bogor. Jadi sebenernya banyaak banget cerita yang bisa gua share, cuman satu satu kayaknya bakal gua tulis disini, biar gak salah fokus gitu hehe

Nah, kali ini gua ngangkat judul yang rada lumayan berat, terus kaya sarat makna gitu kan yah haha *udah gitu aja*. Tapi emang tulisan kali ini bakal menceritakan tentang kisah temen gua SMA, 3 tahun bareng2 gitu sekelas, jadi ya lumayan deket lah. Untung aja cowok.... 

Udah jadi obrolan jaman dahulu kala sejak negara api belum menyerang, temen gua ini mau bikin cafe gitu. Cita-citanya bisa dibilang gak muluk2, cuman pengen punya warung kopi, atau Coffee Shop lah ya kita nyebutnya biar rada elegan dikit. haha iya sekarang lu liat aja, aada perbedaan antara star****bucks dengan warkop2 lain ? cuman dari branding jek, bisa naikin harga kopi jadi mahal banget ! haha jadi nama juga menentukan, ngerubah nama dari warung kopi jadi coffee shop aja bisa ngerubah harga di daftar menu kita berlipat-lipat. haha pantesan bener orang-orang bilang nama itu adalah doa :p

Nah akhirnya tahun lalu temen gua ini mulai merintis bisnisnya, dengan menyewa sebuah kios di sebuah daerah di Bogor. Setelah itu biasa lah ngurusin2 hal-hal terkait starting up, mulai dari nyiapin meja, kipas angin, kulkas, kompor, kursi, sapu ayo ayo dipilih dipilih.. bisa kredit juga bu ! (loh?) hahaaha ya pokoknya kaya begitu lah sampe akhirnya dia bisa buka itu warung kopi. 

Untuk dibandingkan sama coffee shop yang lain bisa dibilang masih jauh lah dari kata setara, masih noob banget gitu. Cuman yang jadi poinnya adalah, bagaimana kita menekuni passion kita, sampai (mungkin) bisa jadi sumber penghasilan. Gua bukan pakar soal ekonomi sih, jadi gua ga ngebahas soal keuangan dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Tapi, gua pengen sharing ke kalian dan ngingetin buat diri sendiri juga, bahwa udah harus mulai mikirin apa sih yang sebenernya kita cari, yang jadi cita-cita kita, yang kita pengenin. Gua pernah denger ya, bahwa hobi yang paling menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar. Mungkin hobinya temen gua adalah jaga warung kopi kali ya, makanya dia buka warung kopi hahaha :p

Selanjutnya, yang menurut gua menarik untuk di-share adalah bagaimana management diri dalam mengelola rasa takut. Rasa takut yang gua maksud disini adalah yang kaya pikiran-pikiran negatif, atau parno untuk memulai suatu hal. Bayangin, dia masih kuliah, uang belum ada yang dipake buat modal, gatau juga setelah buka akan bertahan apa enggak warungnya ini, karena bisa dibilang kan kalah pamor sama coffe shop, yang punya temen gua kan cuman sekedar warung kopi.. apa atuh warung kopi mah hahaha. Nah, tapi temen gua berani untuk memulai, ini kalo buat gua adalah sebuah modal awal yang jauh lebih penting daripada materi. so, harus berani !

sampai sini ada pertanyaan ? (haha ngaco abis..)

Waktu gua main ke warung kopinya, ya udah lumayan lah bisa dibilang udah stabil keuangannya. Memang omzet belum seberapa, tapi untuk sekedar menutup biaya operasional dasar mah cukup. Buat gua itu sih udah masuk kategori "berhasil" , seenggaknya itu warung gak akan tutup kan. Dan gua bisa bilang ke kalian yang kebetulan pecinta kulineran, dan doyan belanja, gua ga sungkan-sungkan buat nawarin untuk mampir ke warung temen gua ini. karena apa ?

1. Harga masih terjangkau, jadi jajan make duit- duit receh sisa belanja juga masih bisa lah

2. Variasi menunya lumayan untuk ngeganjel laparnya perut setelah berjalan-jalan, ada aneka kopi, minuman dingin, roti bakar, dan indomie. Khas warung kopi banget hehe nyari pizza mah kaga ade !

3. Tempat yang strategis, di jalan Kumbang no. 6 bogor. Kalo anak bogor pasti tau Mcd lodaya, nah deket situ bro ! ada yang suka main billiard, bisa ke season, udahannya ngopi dan nge-indomie ! Factory Outlet juga ada kok tinggal bersin juga sampe (ala benakribo) hahaha

4. Konsepnya streetfood, jadi ada macem-macem jajanan lain, seperti @ngadem_eskrim , @nasgor_neraka yang siap dicicipin. Harga mah gausah ditanya, terjangkau cuy !

5. Buat jomblo-Jomblo, kalo lagi nganggur main aja kesana ! soalnya deket banget sama kampus IPB haha lumayan lah siang-siang nyegerin mata dan tenggorokan. hehe ._.v

6..

7..

masih ada banyak lagi sebenernya, tapi apa lu rela gua spoilerin tentang tempat ini ?! haha dateng aja cobain dan rasain khasiatnya :p (btw gua bukan jualan obat)

oiya, biar ada gambaran dikit, ini gua share tentang penampakan warungnya.. Bentar ! gua lupa mention nama warungnya haha (bego ! -_-) namanya adalah WB! bukan warner bros, tapi Warung Bima. Nah ketauan juga kan nama temen gua itu Bima. Nama lengkapnya panjang bener jadi gak usah lah ya gua mention disini haha

inilah penampakannya !

 Ini penampakan @ngadem_eskrim, homemade ice cream gitu. Suka es krim, main-main lah siapa tau suka :p


Nah !! ini yang gua ceritain dari tadi, Warung Bima. 

Hikmah dari cerita ini adalah, gak perlu ngeluarin uang banyak hanya untuk ngopi dan kumpul sama temen-temen. Gak nyambung ya ? anggep aja nyambung ya ?! hahahaha


Berlin, 14. 10.2014
Dari Meja Belajar yang kadang beralih fungsi

Credit

Logo by : Cup graphic by Madebyoliver from Flaticon is licensed under CC BY 3.0. Made with Logo Maker