Kamis, 02 Januari 2020

Tahun Baru, Tahun Sotoy!

17.14

(Disclaimer: Tidak bermaksud merendahkan seseorang atau golongan. Tidak juga menyepelekan suatu opini, apalagi merendahkan pelontarnya. Gw cuman pengen nawarin perspektif baru.)

Servus!

Selamat Tahun Baru bagi kalian yang baca blog ini, karena kalian udah bisa bertahan dan melewati tahun 2019. Semoga tahun ini bisa menjadi lebih baik dan membawa berkah untuk hidup kita semua.

Dahulu ketika masih bayi, kita jatuh berkali-kali saat belajar untuk jalan. Seringkali jatuh, kadang harus menahan sakit dan malu, ketika kita belajar untuk lari setelah bisa berjalan. Seharusnya kita kembali menerapkan prinsip itu saat kita menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa. Dengan begitu kita bisa berkembang menjadi lebih baik lagi dan bisa berakhir memiliki banyak kemampuan. 

Prinsip ini perlahan coba gw program ke otak gw. Bersama istri gw, gw selalu mengulang-ulang kalimat yang kurang lebih berbunyi "Sotoy aja dulu! ntar lama-lama juga jago". Kami percaya bahwa semua orang yang kita pandang saat ini jago pada sebuah bidang, pernah berada di sebuah masa yang mereka sotoy banget. Gw beberapa kali menemukan konten di sebuah platform berbagi video di mana pembuat konten bereaksi terhadap video-video yang mereka buat di awal karir mereka. Kebanyakan dari mereka sedikit bingung, mengapa dulu mereka alay dan sotoy? Karena memang kita harus berproses dan meniti dari awal, di mana hasilnya pasti jelek. Emang hukum alam bahwa gak ada yang tiba-tiba langsung jago di sebuah hal.

Prinsip yang kami program berjalan paralel dengan praktik. Alhamdulillah, gw ada ketertarikan untuk jalan-jalan, begitupun istri gw. Ditambah lagi kami memiliki ketertarikan untuk mengabadikan sesuatu menggunakan media foto. Maka "proyek sotoy" pertama yang kami tekuni adalah fotografi. Alhasil, kami sering jalan-jalan tanpa tujuan berkeliling Kota Berlin untuk mencari angin dan juga mencari foto. 

Di era digital ada sebuah paradigma yang berkembang dan tagline-nya menurut gw sudah cukup dikenal, yaitu sharing is caring. Sebanding dengan semudah membalikkan telapak tangan, semudah itu juga lo bisa menemukan tutorial hampir untuk segala macem hal. Yang menarik adalah banyak yang berbagi ilmunya secara gratis. Jadi, hampir gak ada alesan untuk menunda belajar, kecuali lo emang gak tertarik pengen bisa sebuah hal dan lebih memilih untuk menjadi penikmat, bukan pencipta.

Beberapa hari kemarin gw dan istri beserta beberapa kawan lama dari Darmstadt jalan-jalan berkeliling Berlin. Sebuah permintaan spesifik dari salah seorang kawan membuat gw dan istri memutuskan untuk jalan ke daerah Hackescher Markt dan sekitar stasiun Warschauerstraße. Yang menarik adalah suasana urban langsung terasa ketika berkeliling di sekitar daerah tersebut. Dua tempat tersebut menurut gw dua dari banyak spot-spot di Berlin yang seolah mengafirmasi bahwa Berlin emang indah karena acak-acakan. Berprinsip sotoy membuat kami langsung mengeluarkan kamera dan mulai menjepret dan melatih mata supaya lebih "peka" untuk menangkap sebuah objek yang menarik. Tapi perlu dicatat, namanya seni itu abstrak. Artinya, silahkan lo eksplor gaya lo sendiri. 

"Kok hasilnya jelek?" jawab aja "Bodo Amat, kan gw sotoy!"

Kesimpulannya adalah kita bisa menjadi apapun di jaman sekarang. Tahun baru biasanya menjadi momentum untuk sejenak melihat ke belakang dan merefleksikan diri sekaligus menyusun dan berencana tentang apa yang akan dilakukan tahun 2020. Banyak kemudahan-kemudahan berbasis teknologi yang sebenernya menjadi keuntungan generasi ini, bila dibandingkan dengan jaman orang tua kita. Pilihannya tinggal apakah kita mau eksplor atau tidak?

Ngomong-ngomong gw mau sotoy dan membagikan beberapa hasil jepretan gw  di bawah ini.

Jangan lupa matiin kamera kalau sudah beres foto!

Sekian.




Minggu, 10 Februari 2019

Kuliah di Jerman Susah?!

22.03

(Disclaimer: Tidak bermaksud merendahkan atau menyepelekan opini yang berkembang, apalagi merendahkan pelontarnya. Gw cuman pengen nawarin perspektif baru.)

Servus!

Setelah sekian lama vakum karena ketidakonsistenan diri sendiri, akhrinya timbul lagi niat untuk kembali mengisi kolom tulisan di blog ini. Musuh terbesar seseorang yang berkecimpung di dunia cipta karya adalah konsistensi dan niat untuk persisten mengerjakan hal yang relevan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan di awal. Semoga Semua bisa tetep konsisten dalam hidup masing-masing.

Cukup dulu untuk intermezzo-nya. 

Jadi, beberapa saat lalu, sekitar akhir Januari 2019, sempat ramai teman-teman mahasiswa yang berkuliah di Jerman mengunggah Instagram Story yang intinya adalah menyatakan opini bahwa kuliah di Jerman itu sulit. Opini-opini tersebut didukung dengan beberapa "bukti" berupa beberapa buah tangkapan layar dari tulisan seseorang yang dimuat di internet. Gw rasa beberapa akun Instagram temen-temen gw ikut menyuarakan aspirasinya yang terwakilkan oleh tangkapan layar tersebut. Entah siapa yang memulai. Yang gw tahu, hal ini lumayan viral di lingkaran temen-temen mahasiswa di Jerman.

Beberapa hari kemudian, seorang kawan menyatakan opini untuk menanggapi fenomena yang tadi barusan gw ceritain. Kali ini di jejaring sosial Twitter. Poinnya cukup menarik, sehingga gw ikut nimbrung di percakapan dunia maya tersebut. Hal inilah yang mencetuskan ide di kepala gw untuk nulis. Gw gak akan larut membahas percakapan tersebut, karena menyangkut privasi orang lain. Makanya, tulisan ini bakal gw lanjut dengan perspektif gw sendiri tentang opini yang viral tersebut.

Pandangan awal gw tentang opini ini adalah soal kata sifat yang terdapat di kalimat tersebut. Kata sifat "susah". Menurut gw pribadi, suatu ukuran yang diekspresikan menggunakan kata sifat akan terasa sangat relatif, tergantung dari perspektif si pembuat. Maka dari itu, diperlukan sebuah tolok ukur yang baku atau minimal disepakati oleh mayoritas, sehingga mengurangi efek bias. Jika ada yang bilang bahwa kuliah di Jerman itu susah, maka sangat wajar jika pertanyaan pertama yang terlontar adalah tempat kuliah mana selain di Jerman yang pernah dirasakan oleh penulis. Buat gw pribadi, matematika kalkulus itu lumayan menyiksa lahir dan batin, tapi bagi temen-temen peserta olimpiade matematika, persoalan tadi bisa turun tingkat kesulitannya sampai pada level biasa aja. Gak susah susah amat. 

Selanjutnya, gw berpikir soal fakta yang ada di lapangan. Gw sama sekali gak merendahkan temen-temen yang merasa kesulitan kuiah, karena gw pun selalu mengalami dan merasakan kesulitan saat kuliah. Cara kita memandang hal tersebutlah yang akan menjadi pembeda hasil akhir dari sebuah proses yang sama-sama dijalani oleh seluruh mahasiswa di Jerman. Gw juga bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Gw cuma ingin menawarkan sudut pandang baru dalam menyikapi fenomena ini. Sebuah fakta yang harus kita akui adalah semua mahasiswa di Jerman menjalani proses perkuliahan dengan modal yang relatif sama. 

Modal paling utama agar sesorang mampu belajar dan bersaing adalah kesehatan akal pikiran. Hal yang paling esensial. Kawan-kawan gw yang sekolah di Jerman alhamdulillah sehat secara akal pikiran, gak absen ketika Allah bagi-bagi akal. Kemudian, tanpa mengecilkan temen-temen yang punya keterbatasan, mahasiswa yang pergi belajar ke Jerman dianugrahi panca indra yang (insya Allah) sehat. Kebanyakan yang gw kenal alhamdulillah sehat-sehat dan kuat semua. Dari sini mungkin kita bisa bersepakat, bahwa kita semua memulai proses belajar di Jerman dengan modal yang sama. 

Peralatan untuk mencapai tujuan akhir dengan selamat dan sukses menurut gw gak kalah penting. Orang yang sehat akan lebih cepat sampai ke Bandung dari Jakarta, ketika dia mengendarai mobil dari jakarta, daripada berjalan kaki. Analogi simpel ini yang gw pake untuk menjustifikasi pentingnya ketersediaan alat untuk meraih yang kita inginkan. Selama gw berkuliah di Jerman, gw mengamati kawan-kawan sesama mahasiswa, baik itu satu jurusan, maupun yang beda jurusan. Hal ini terbatas di kampus gw, HTW Berlin. Semua mahasiswa, tidak terpaku pada suku, bangsa, agama atau warna kulit, mendapatkan hak yang sama di kampus. Contohnya, soal akses terhadap materi-materi kuliah, yang bisa dinikmati langsung di kelas atau daring, tidak ada perbedaan ketika mahasiswa non-Jerman ingin menggunakan fasilitas kampus, juga tidak ada pula dosen yang melarang mahasiswanya, berdasarkan alasan apapun, untuk datang ke jam konsultasi yang sudah disediakan oleh dosen tersebut. Belum lagi keleluasaan untuk mengakses literatur di perpustakaan, sampai kemudahan (kemurahan) penggunaan software berbayar tertentu untuk kepentingan studi. Sampai sini, mungkin kita bisa kembali bersepakat, bahwa peralatan yang dimiliki semua mahasiswa sama. Sama dalam pengertian fungsi, cakupan dan ketersediaan. 

Gw sadar, dan betul-betul sadar, bahwa ada hal-hal lain yang tak terduga dan non-teknis yang bisa menghambat studi seseorang. Bisa jadi persoalan finansial, atau soal keluarga. Soal seperti ini sayangnya gak bisa digeneralisasi. Masalah tiap orang berbeda. Betul. Gw pun sadar hal tersebut. Alhamdulillah, banyak kawan-kawan, yang mungkin punya masalah lebih berat daripada gw, tetep bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab terhadap orang tua yang sudah membiayai supaya anaknya bisa kuliah di Jerman. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mencapai tujuannya. Untuk sampai ke Bandung dari Jakarta pun banyak alternatifnya, bisa bermacam-macam tergantung dari strategi, modal dan alat yang dimiliki seseorang.

Akhirnya, gw cuma ingin membedakan yang dibilang susah ini menjadi dua hal, yaitu tantangan dan hambatan. Apapun yang ada di depan mata lo, anggap aja sebuah tantangan. Dalam menghadapi tantangan, perlu dilakukan analisis untuk menentukan strategi, modal dan peralatan yang dibutuhkan agar bisa mencapai tujuan. Yang bikin lo takut atau kesulitan dalam menghadapi tantangan tersebut adalah hambatan. Hambatan itu datangnya dari diri lo sendiri. Menurut gw aneh aja ketika ada yang bilang kuliah di Jerman itu susah, sementara sehari-hari dihabiskan dengan main game tanpa pernah datang ke kampus. Pada kasus yang tadi, penilaian kuliah di Jerman itu susah jadi gak relevan lagi, karena diucapkan oleh seseorang yang lebih sering main daripada dateng ke kampus. Hambatan lebih besar daripada tantangan. Atasi dulu semua hambatan yang ada di diri sendiri sebelum menyelesaikan tantangan di depan mata lo. Ketika lo sukses bangun pagi pas musim dingin dan pergi ke kampus untuk denger kuliah dari dosen, setengah dari tantangan lo udah berhasil ditaklukkan. Setengahnya lagi bisa beres lewat usaha yang keras dan doa. 

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat buat kita semua, bahwa kita mampu menyelesaikan semua tantangan yang ada, jika semua hambatan bisa kita taklukkan. Semua tergantung niat. Kuatkan hati dan teguhkan langkah. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan dengan modal dan peralatan yang ada? Silakan dijawab masing-masing. Kalau bisa sebelum semester baru dimulai! 

Jangan lupa bayar semesteran!


Sekian.


(Photo by Samuel Zeller on Unsplash)

Senin, 06 Agustus 2018

Mawas Dirilah, cuy!

13.48




Servus!

Kecepatan penyebaran informasi mengalami peningkatan yang signifikan beberapa tahun belakangan. Hal ini ditunjang oleh teknologi yang hampir setiap hari menemani kita, yaitu internet. Membendung informasi agaknya sangat sulit dilakukan, tapi yang bisa kita lakukan adalah menyaring informasi yang kita terima. Memfilter informasi yang akan atau yang kita konsumsi menurut gw sebuah tindakan yang bijaksana. Karena, informasi tersebut sedikit banyak berpengaruh terhadap hidup seseorang, baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu cara penyebaran informasi yang paling cepat dan luas adalah melalui media sosial. 

Pengguna media sosial di masyarakat gw rasa semakin banyak. Berbagai macam latar belakang dan usia tumpah ruah di dunia maya. Menurut gw, kesiapan mental seseorang itu penting untuk diperhatikan sebelum orang tersebut masuk dan aktif di dunia maya. Siapapun bisa jadi siapapun. Makdarit, gw sebenernya rada-rada gak aneh ketika banyak yang palsu di dunia maya. Yang dipalsuin bukan jam tangan atau sepatu, tetapi gaya hidup. 

Kita adalah apa yang kita lihat. Mungkin bagus kalau ditambahkan untuk melengkapi istilah yang sudah dikenal sebelumnya, kita adalah yang apa yang kita makan. Gw merasa impak dari penggunaan sosial media sangat kentara di masyarakat. Mungkin dari sini gw akan bikin batasan supaya gak terlalu luas. Yang pengen gw sampaikan adalah soal salah satu media sosial yang sangat digemari belakangan ini, Instagram, dan implikasinya terhadap gaya berpakaian dan gaya hidup.

Gak ada yang salah dengan menggunakan Instagram sebagai salah satu wahana untuk bertukar cerita dan informasi. Dalam proses pertukaran berarti ada sesuatu yang kita dapat dengan memberikan yang kita punya sebagai gantinya. Kita berbagi cerita, maka kita juga akan dapat cerita orang lain. Mengikuti akun orang lain adalah cara kita untuk dapat informasi tentang pemilik akun tersebut. Kita adalah apa yang kita lihat. Kalau mengikuti akun-akun milik artis, lintas bidang baik lokal maupun internasional, gak aneh kalau secara gak sadar ada rasa ingin mengikuti gaya hidupnya atau cara berpakaiannya.

Jarang gw liat ada artis memakai barang yang tidak bermerek. Karena mereka punya duit, bebas aja mau beli dan pakai merek apapun dengan gaya hidup setinggi yang bisa mereka bayangin. Nah, berhubung gak ada penyaringan untuk jadi pengikut sebuah akun milik artis di Instagram, maka demografinya bermacam-macam, dari yang menengah ke bawah sampai menengah ke atas.

Lagi-lagi yang punya duit mah bebas. Menurut gw sah-sah aja kalau ada yang mau mengikuti gaya berpakaian figur idolanya. Kalau memang mampu, silakan aja kan duit juga punya masing-masing. Yang kadang gw sayangkan adalah ketika ada yang sebenernya rada-rada engap untuk mengikuti figurnya, bukan mencari alternatif tapi malah maksain. 

Kuncinya adalah mawas diri. Bersyukur aja terhadap yang udah Allah kasih buat masing-masing individu. Kalau emang gak mampu, gak perlu lah coba-coba. Merek dagang Suprim menjual produk-produknya dengan harga yang kadang bikin merinding sekaligus bingung. Ketika seseorang mawas diri, kemungkinan besar dia akan menahan diri untuk tidak mencoba ikut larut di dalam pusaran tersebut. Bentuk menahan diri paling simpel adalah dengan tidak coba-coba beli barang KW-nya. Yang bagus adalah berusaha supaya emang beneran mampu beli.

Karena harga mahal, udah jelas banget kalau itu barang eksklusif yang mungkin hanya bisa dibeli oleh segelintir orang. Daripada dihakimi yang enggak-enggak, lebih baik menghindari, bukan?

Selanjutnya, jangan larut di dalam standar yang sebenernya gak jelas gunanya apa dan siapa yang bikin. BIkin standar lo sendiri untuk semua hal. Mengikuti zaman gak haram, tapi lebih baik lagi kalau disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kalau ikut larut ke dalam standar yang sebenernya gak bisa kita ikutin, namanya maksa.

Dalam berpakaian yang penting kita merasa nyaman dan sesuai pada tempatnya. Lebih jauh lagi sesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing. Mungkin sudah saatnya berkampanye bahwa jangan selalu menilai orang hanya dari penampilan, tapi juga dari pribadinya dan kemampuan yang dimiliki. Penampilan itu penting, tapi bukan segalanya. 

Jangan lupa jemur handuk setelah mandi!

Sekian.

Photo by Aziz Acharki on Unsplash

Credit

Logo by : Cup graphic by Madebyoliver from Flaticon is licensed under CC BY 3.0. Made with Logo Maker