Selasa, 10 Oktober 2017

Kuliah di Luar gak harus pintar!

13.31


Servus!

Jangan kegocek sama judulnya! bukan luar ruangan apalagi luar angkasa, tapi luar negeri. Buat kawan-kawan yang bermimpi melanjutkan studi ke luar negeri, jangan khawatir apalagi minder, karena gak harus pintar!

Ada sedikit cerita tentang latar belakang gw, khususnya kemampuan akademik. Gw lahir dengan kemampuan akademik yang biasa-biasa aja. Kapasitas otak gw sama kaya manusia normal pada umumnya. Jadi gak ada keistimewaan yang gw dapet dari warisan genetika orang tua. Kecuali bonyok gw macem B.J Habibie tuh baru lah boleh bilang gw udah pinter dari orok.

Di SMA gw lumayan sering dispen (izin gak masuk sekolah). Mulai dari organisasi sampai tugas negara. Serius! soalnya gw dulu anggota Paskibraka Kota Bogor. Jadi bisa dibilang abdi negara lah, hehe. Setelah 17 Agustus juga masih suka dipanggil untuk ikut upacara ini dan itu, termasuk pernah juga dapet kesempatan jadi pemandu di acara Istana Bogor Open dalam rangka peringatan hari jadi Kota Bogor. Dan di dalem sekolah pun gw kadang harus dispen untuk kepentingan organisasi. Alhasil, gw jarang di kelas dan belajar juga seadanya.

Singkat cerita sampailah gw di fase Studienkolleg (kelas persiapan bagi orang asing sebelum memulai kuliah) setelah sebelumnya les bahasa intensif selama 6 bulan. Gw merasa malu dan lucu ketika dosen nerangin tentang turunan (diferensial) dan gw merasa asing. Gw sempet nyolek kawan gw yang kebetulan dari Indonesia juga. Gw bilang ke dia kurang lebih nanyain tentang yang lagi dijelasin sama dosen, kok kaya susah banget gitu. Terus kawan gw dengan santainya bilang bahwa materi ini udah pernah diajarkan di SMA. Nah disitu gw langsung kicep dan merasa sampah, 3 tahun di SMA gw gak belajar apa-apa secara bener. Untung banyak main dan organisasi jadi gak rugi-rugi amat. :p

Belum lama ini gw berhasil (akhirnya) menyelesaikan studi gw di HTW Berlin (University of applied sciences Berlin) dengan jurusan teknik otomotif. Gw orang dengan anugrah otak normal dan kemampuan akademik biasa-biasa aja, tapi bisa bertahan sampai akhirnya lulus. Ternyata yang gak kalah penting dari kemampuan akademik adalah mentalitas lo. Apalagi sebagai mahasiswa asing, bahasa menjadi tantangan tersendiri. Tapi gak selamanya bahasa bisa dijadiin kambing hitam atas sesuatu yang menimpa seorang mahasiswa selama dia belajar di luar negeri, khususnya di Jerman. 

Ngomongin soal mentalitas, termasuk didalamnya spirit belajar lo, keteguhan hati dan kegigihan dalam menghadapi semua tantangan. Dengan kemampuan otak yang segini, maka gw harus usaha lebih keras supaya bisa nyamain kawan-kawan lain yang level otaknya mungkin lebih daripada gw. Hitungan simpelnya, kalo orang Jerman asli butuh waktu 3 jam untuk memahami sebuah teori, maka gw harus belajar lebih dari 3 jam untuk paham. Gausah dikeluhkan tapi jalanin aja, karena emang kondisinya kaya gitu. Kalo orang yang basis akademiknya kuat dan pinter butuh waktu 2 minggu untuk persiapin ujian, maka gw bakal mulai dari sebulan sebelumnya untuk mempersiapkan ujian. 

Pada akhirnya, kemampuan otak bukanlah segalanya. Lo gak ngerti matematika, kalo belajar juga pasti bisa pada akhirnya. Lo bisa jalan juga setelah melewati jatuh bangun beberapa kali kan? Masa pas belajar yang lain maunya langsung bisa? kan gak adil. Belajar mengelola hati, manajemen emosi, semangat pantang menyerah dan keberanian adalah hal yang gw pelajari selama proses belajar di sini, disamping ilmu-ilmu yang spesifik di kuliahan. Jadi buat lo yang ada mimpi lanjut kuliah ke luar negeri, hajar aja! tinggal sabar ikutin alur dan proses, insya Allah bisa. Orang Indonesia itu gak ada yang bodoh, cuman kadang malesnya aja yang kadang gak ketulungan sehingga nampak seolah pada bodoh.

Terakhir, jangan salahkan mecin kalo lo ngerasa kurang pinter. Hentikan stigma kalo mecin itu bikin bodoh. Yang bikin lo bodoh itu ya diri lo sendiri karena gak belajar, bukannya mecin! Jadi stop stereotype tentang mecin. Walau begitu, gunakan mecin dengan bijak ya. Jangan makan mecin banyak-banyak, apalagi digadoin!

Sekian.

Jumat, 25 Agustus 2017

Hijrah Dari Mall

11.35

Servus!

Refreshing itu penting. Rutinitas harian bisa berefek rasa bosan dan penat. Butuh sesuatu di akhir pekan untuk mencairkan perasaan-perasaan itu sehingga kembali fit untuk mengawali minggu yang baru. Pilihan refreshing gw rasa tak berbatas. Artinya, banyak kemungkinan yang orang bisa lakuin untuk mencairkan penat dan bosan, termasuk melakukan hobi. Keterbatasan waktu dan biaya seringkali memaksa untuk refreshing yang bertempat disekitar tempat tinggal, disamping banyak variabel lain yang membuat ruang gerak terbatas. Ini menjadi menarik untuk didiskusikan, apa aja yang bisa dilakuin untuk melepas penat dan membunuh bosan?

Yang menarik untuk didiskusikan adalah mode refreshing apa yang bisa ditawarkan di tempat kita tinggal. Banyak variabel yang bisa dipakai sebagai dasar memilih sebuah mode refreshing. Mulai dari biaya, jarak dari tempat tinggal sampai kenyamanan. Setiap orang punya kecenderungan masing-masing dan pasti bermacam-macam. Pertanyaannya kemudian, gimana kalau pilihan refreshing-nya aja gak ada, alih-alih mau menimbang pilihan berdasarkan variabel tertentu?

Hal yang baru gw sadari setelah dapet kesempatan tinggal di Benua seberang. Dulu gw gak merasa ada masalah ketika tiap akhir pekan harus jalan ke mall karena gw gak melihat opsi lain untuk refreshing. Sebagai alternatif mungkin nongkrong sama kawan-kawan di cafe atau restoran. Jadi jangan heran kalau mall terus dibangun di Indonesia. Padahal kalau mau jujur, apa urgensinya bikin mall banyak kalau toh isinya sama semua? Gw Gak menyalahkan, karena namanya juga bisnis, ketika dilihat pasarnya menjanjikan pasti akan terpusat perkembangannya di sektor tersebut.

Lain cerita ketika gw sampai dan tinggal di Berlin. Jumlah mall gak banyak dan kalah megah sama mall-mall yang ada di Jakarta. Soal isi gak usah ditanya, sama aja kaya mall kebanyakan. Isinya cuma kios-kios yang menjual merk terkenal juga yang biasa-biasa aja. Standar. Disitu gw menemukan kejenuhan di tempat yang seharusnya jadi tempat gw membuang kejenuhan.

Disini gw menemukan mode baru untuk melepas penat selain ke mall. Gw berkunjung ke taman-taman kota. Gw baru sadar ternyata jumlah mall dibandingkan dengan jumlah ruang terbuka publik kalah jauh. karena itu, Opsi gw bertambah gak cuma main ke mall tiap akhir pekan. Ternyata seru banget kalau main ke ruang terbuka publik gitu. Bisa ketemu banyak orang baru dan mata seger ngeliat banyak pohon yang hijau-hijau. Dan yang terpenting, kegiatan berlangsung gak di dalam ruangan. Bayangin aja seminggu penuh beraktifitas di dalam ruangan dan ketika harus refreshing malah menghabiskan waktu di dalam ruangan. Jadi kurang greget.

Dan ternyata gw menikmati banget pas berkunjung ke ruang terbuka publik, terutama waktu musim panas. Bisa duduk-duduk doang, nonton atraksi-atraksi sampai ada musisi indie yang unjuk gigi. Semua terjadi di ruang terbuka. Terlebih waktu nungguin matahari terbenam, bahagia dan senengnya berkali lipat. Semoga kedepannya di Indonesia banyak dibuat ruang terbuka publik. Boleh lah sesekali izin mendirikan mall ditolak dan digantikan dengan yang terbuka-terbuka. Yang terbuka Lebih asik, kan?

Jangan lupa password media sosial! 


Sekian.

Photo by Lukasz Saczek on Unsplash

Minggu, 13 Agustus 2017

Memaknai Kemerdekaan

14.48


Servus!

Hidup terjajah jelas mimpi buruk buat semua orang. Denger cerita jaman penjajahan aja rasanya udah ngeri, gimana kalau ngalamin sendiri. Amit-amit ya :/

Bangsa kita dijajah selama 350an tahun lamanya. Bisa lepas dari belenggu penjajah dan menjadi bangsa merdeka adalah sebuah anugerah yang tak terkira nilainya. 

Sejarah mencatat hanya sedikit bangsa yang bisa bertahan sekian lama dibawah pendudukan bangsa barat. Sebagian lainnya bener-bener dimarjinalkan dan menjadi minoritas di tanah leluhurnya sendiri. 

Coba kita tengok suku indian, penghuni asli dataran Amerika. Berapa jumlahnya sekarang? gambar-gambar dari suku indian yang berhasil diabadikan menunjukkan bahwa rupa asli penduduk Amerika gak berperawakan seperti yang kita kenal sekarang.

Selanjutnya ada suku Aborigin, yang tanah leluhurnya gak terpaut jarak yang cukup jauh dari Indonesia. Apa kabarnya hari ini? Penghuni benua Australia nampak bukan seperti leluhur di tanah itu. Orang Aboriginnya ke mana?

Di Indonesia kita lihat ada berapa banyak bambang? Ada berapa banyak nama putra? icha? belum lagi nama macem-macem marga. Nama khas dari Orang Indonesia berdasarkan latar belakang budaya dan sukunya masing-masing. Ini menunjukkan eksistensi kita masih kokoh. Langit Indonesia dijunjung oleh kita, pewaris resmi dari leluhur-leluhur kita. 350 tahun dijajah tapi kita gak bernasib sama dengan yang tadi gw sebutin. Disini kita patut bersyukur dan wajib berbangga. Dalam diri kita mengalir darah pejuang. Darah orang-orang pemberani. Penantang segala bentuk penjajahan.

17 Agustus 1945 sejatinya hanya simbol. Tanggal yang menjadi babak baru perjuangan panjang para pejuang yang mendahului kita. Deklarasi bahwa kita tidak terikat dengan pihak manapun, tapi jelas tidak menegaskan bahwa perjuangan bangsa berhenti sampai disitu. 

Kemerdekaan ini wajar kita rayakan dengan suka cita, dengan harapan tidak melupakan jasa-jasa para pejuang yang telah mendahului kita, yang memerdekakan bangsa ini. Minimal kirim doa untuk mereka yang rela mengorbankan jiwa raga untuk ketentraman hidup kita sekarang. 

Yang wajib diadain yaitu upacara bendera. Prosesi yang buat gw sakral banget, karena dulu pernah tergabung di Paskibraka Kota Bogor. Jadi kesannya beda aja kalo tiap taun liat upacara hari kemerdekaan. 

Nah Cara melakukan selebrasi menyambut hari kemerdekaan menurut gw unik. Yang lazim kita kenal banyak diadakan perlombaan 17-an. Dari level anak-anak hingga dewasa. Sampe ada yang upacara diatas gunung atau dibawah laut.

Diatas itu semua yang terpenting adalah berhasilkah kita memaknai hari kemerdekaan ini. Kemerdekaan itu sesuatu yang sangat mahal. Harus ada hikmah yang bisa kita ambil tatkala kemerdekaan itu kita dapatkan. Jangan terlena di kehidupan yang nyaman ini sehingga gagal mendapatkan esensi dari perayaan itu sendiri.

Gw sendiri memaknai kemerdekaan sebagai momentum untuk merefleksikan diri, udah sejauh mana gw berbuat untuk bangsa gw. Orang bijak pernah berkata, jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kau sumbangkan kepada bangsamu. 

Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, gw yakin gak semuanya angkat senjata. Banyak yang jadi tentara, tapi banyak juga yang menjadi pendidik, yang jadi dokter, perawat, petani dsb. Usaha untuk merdeka menurut gw adalah gabungan dari berbagai macam elemen masyarakat dan bidang. Dari sini gw berpendapat, pemerintahan hanyalah salah satu instrumen untuk menuju kemerdekaan. Ada banyak hal lain, di bidang lain yang bisa kita kerjakan asal kita semua satu tujuan. 

Inti yang pengen gw share adalah lakuin aja sesuatu, sesuai kemampuan lo di bidang terbaik lo untuk Indonesia. Gausah nunggu jadi pejabat untuk membantu masyarakat. Gausah nunggu jadi S-3 baru bantu kerjain PR adik kita.  Karena perjuangan bangsa ini bukan cuman yang konfrontasi angkat senjata, tapi juga melalui jalur lain yang kadang gak kita cermati.

Sekali merdeka tetap merdeka!

Jangan salah barisan pas upacara!


Sekian. 

Credit

Logo by : Cup graphic by Madebyoliver from Flaticon is licensed under CC BY 3.0. Made with Logo Maker