Jumat, 10 April 2020

Ayo, Pilih Sekarang dan Kerjakan!

19.47


Servus!

Beberapa saat lalu ada kawan yang merekomendasikan sebuah video di Youtube. Video itu bercerita tentang salah seorang pahlawan Indonesia, yaitu Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Nama bekennya H.O.S Tjokroaminoto. Kalian pernah denger namanya? Kalau pernah, coba tinggalin di kolom komentar hal apa yang kalian ingat dan paling berkesan tentang beliau ini. 

Gw gak pengen cerita panjang lebar soal sejarah kehidupan H.O.S Tjokroaminoto di tulisan kali ini. Supaya simpel gw kasih tautan buat video yang gw ceritain tadi. Singkatnya beliau ini salah satu tokoh paling berpengaruh di masa-masa persiapan indonesia merdeka, terutama ketika perjuangan lewat jalur politik, pergerakan organisasi, dan diplomasi semakin marak. Bingkai waktunya kira-kira awal tahun 1900-an. Beliau ini tokoh besar dari organisasi pergerakan bernama Sarekat Islam, sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islam bentukan Haji Samanhoedi. Melalui organisasi tersebutlah H.O.S Tjokroaminoto berperan aktif dalam usaha memerdekakan Indonesia. Bahkan, beberapa nama besar seperti Agus Salim, Kartosoewirjo, sampai Tan Malaka dikabarkan adalah murid beliau. Gw gak tau pasti bagaimana proses belajarnya, hanya saja nama-nama tersebut berkaitan erat dengan nama H.O.S Tjokroaminoto. 

H.O.S Tjokroaminoto bisa dibilang masuk kedalam golongan terpelajar pada waktu itu. Ide-ide beliau yang luar biasa diejawantahkan dengan sangat baik melalui organisasi tempat beliau bernaung. Dengan bekal pengetahuan yang dimiliki ia menularkan pemikiran-pemikirannya soal Indonesia merdeka. Para tokoh-tokoh terpelajar lain saling urun pendapat dan berkontribusi aktif, baik melalui Sarekat Islam maupun lewat organisasi pergerakan yang lain-lain. Bangsa ini memang lahir dari ketajaman berpikir, adu argumen, dan persatuan. 

Hikmah yang gw ambil dari secuil kisah hidup H.O.S Tjokroaminoto adalah kaum terpelajar Indonesia yang kala itu aktif melalui organisasi-organisasi pergerakan menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan memerdekakan Indonesia. Banyak contoh kasus dimana kenyamanan hidup yang dinafikan oleh para pahlawan kita untuk sesuatu yang lebih besar. Sebut saja H.O.S Tjokroaminoto yang menjadi tokoh sentral dalam tulisan ini atau misalkan Pangeran Diponegoro yang meninggalkan istana untuk berjuang melawan penjajahan. Dengan previlese yang sedemikian hebatnya di kala itu mereka bisa hidup dengan aman dan nyaman. Tapi, yang mereka lakukan adalah keluar dari zona tersebut kemudian berkorban memperjuangkan sebuah cita-cita yang lebih besar dengan berbagai cara yang mereka mampu. Bayangkan, bisa ikut sekolah saja sudah merupakan anugerah yang sangat langka. Apalagi bisa sampai sekolah tinggi. Hmm, dirasa-rasa kok mirip ya sama zaman sekarang? Gak semua orang bisa sekolah. Ah, mungkin gw aja yang lagi halu. Masa sekarang mah udah makmur, kan?

Menurut gw masuk ke dalam golongan terpelajar sangatlah berat bebannya. Secara gak sadar lo yang bisa sekolah sampai jenjang tinggi adalah yang jadi tumpuan Bangsa ini, salah satu golongan masyarakat yang bertanggung jawab untuk memajukan bangsa dan memerdekakan seluruh Rakyat Indonesia dalam konteks masa kini. Sekali lagi gw tekankan, Bangsa ini gak akan merdeka kalau dulu kaum terpelajarnya cuek bebek cari aman sendiri-sendiri. Dulu, yang sekolah itu bisa hidup enak kerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Tapi sebagiannya ada yang memilih untuk memperjuangkan cita-cita luhur, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Gw paham, sih, gak bisa juga seidealis itu kemudian langsung resign dari kantor dan jadi aktivis. Memang gak punya uang itu adalah ancaman. Ancaman zaman penjajahan jauh lebih mengerikan. Kalau terlalu aktif, bisa-bisa ditangkap dan diasingkan. Sudah lebih baik daripada dihukum mati. Zaman sekarang ancamannya mungkin dihina tetangga atau dicibir kawan, karena lebih miskin atau lebih sedikit hartanya. Poinnya bukan tinggalkan kerjaan dan turun ke jalan. Bukan itu.

Poin gw adalah bahwa lo semua yang bisa sekolah sampe tinggi punya tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi bangsa ini, karena lo punya kelebihan dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu dan pola pikir maju yang membuat lo lebih berdaya. Gw gak maksud membuat lo yang terpelajar jadi eksklusif dengan menyebut sebagai sebuah golongan tertentu yang lebih berdaya. Justru, gw ingin menyemangati diri sendiri dan lo semua yang berkesempatan pernah sekolah sampe tinggi untuk aktif berkontribusi aktif buat masyarakat yang selanjutnya akan berdampak buat negara. Inget, leluhur kita selalu meluangkan waktu untuk ngumpul, urun pendapat, berdiskusi, dan berjuang demi kebaikan negara ini. Avengers punya kelebihan dan mereka memanfaatkan kelebihannya itu untuk menjaga bumi. Seperti mereka, kita pun seharusnya menggunakan kelebihan yang kita punya untuk menjadi bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut opini gw hal yang paling mahal yang harusnya lo punya setelah menyelesaikan sekolah tinggi adalah pola pikir. Gak bermaksud merendahkan yang lain yang gak sekolah, tapi itulah kenyataannya. Persatuan bangsa Indonesia gak lahir ujug-ujug dari mimpi beberapa orang yang berujung melahirkan kesamaan pikiran. Gambaran sebuah bangsa itu muncul dari pikiran. Membayangkan akan ada sebuah negara bernama Indonesia kala itu mungkin seperti utopia. Tapi, dengan pola pikir yang modern dan maju hal itu bisa kita raih dan akhirnya kita nikmati sekarang.

Kesimpulannya, mari belajar dari bagaimana golongan terpelajar dahulu mengambil peran untuk memajukan negara ini. Pola pikir yang diasah selama proses belajar menjadi modal utama untuk berperan di masa sekarang ini, dengan tetap disandingkan dengan keteguhan moral. Sebut saja misalkan konsep soal integritas, kejujuran, keadilan dsb harusnya sudah dipahami dengan matang dan komprehensif oleh para sarjana. Dengan begitu, golongan tersebut harusnya fokus dan bisa lanjut ke level selanjutnya seperti implementasi konsep critical thinking guna mengambil sebuah keputusan dengan baik di level strategis misalnya, yang mana kemampuan tersebut kurang terasah bilamana tidak sekolah tinggi. Tulisan ini menjadi pengingat gw pribadi dan juga mungkin lo yang baca bahwa kebanggan menjadi sarjana atau lulusan jenjang sekolah menengah sampai tinggi dibarengi dengan tanggung jawab moral untuk berkontribusi terhadap negara. Sekali lagi, negara ini merdeka berkat peranan aktif golongan terpelajar ditambah kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat sebagai penyokong. Masih banyak banget yang bisa dikerjain di Indonesia. Silakan pilih peran apa yang lo rasa paling cocok, kemudian langsung bergerak!

Jangan lupa cuci tangan setelah keluar rumah!

Tautan video tentang H.O.S Tjokroaminoto:

Photo by Bluehouse Skis on Unsplash

Minggu, 26 Januari 2020

Semua berhak (tapi gak wajib) untuk berkomentar!

13.39

(Disclaimer: Tidak bermaksud merendahkan seseorang atau golongan. Tidak juga menyepelekan suatu opini, apalagi merendahkan pelontarnya. Gw cuman pengen nawarin perspektif baru.)


Servus!

Kemajuan teknologi menciptakan sebuah era baru, yaitu era keterbukaan yang gak mengenal batas. Konsep ini luas dikenal dengan nama globalisasi. Dengan hilangnya batas berubah pula model komunikasi zaman sekarang. Semudah membalikkan telapak tangan, semudah itu pula kita membagikan isi kepala kita ke seluruh dunia melalui berbagai macam bentuk dan media. Setelah kita memiliki bahasa internasional, sekarang kita memiliki alat komunikasi internasional.

Reformasi tahun 1998 menghasilkan sebuah alam baru di Indonesia, yaitu alam bebas berbicara. Kebebasan berbicara ini bisa ditafsirkan menjadi bermacam-macam. Walaupun ada banyak tafsir, ada suatu hal yang pasti di mana kita bisa sepakat di situ, yaitu kita bebas berpendapat atau berkomentar tentang semua hal. Sekarang tidak harus menjadi orang hebat dulu untuk berkomentar dan didengar orang banyak. Keterbatasan media zaman dulu membuat ada juga semacam "pembatas" yang membatasi dan menyeleksi siapa-siapa yang bisa berpendapat dan kemudian disebarkan secara luas. Dulu belum ada internet, maka butuh radio atau mungkin media cetak untuk menyebarluaskan ide dan gak semua orang bisa berkomentar di media cetak atau di radio. Yang terkenal atau mempunyai pengaruh lebih cenderung punya kemudahan untuk diundang. Sekarang hanya butuh sebuah ponsel dan quota internet, tulisan lo atau karya lo bisa dibaca oleh seseorang di antah berantah di tengah gurun Texas, Amerika Serikat.

Hal yang pasti udah kita punya dari dulu, bahkan sebelum adanya kemajuan teknologi seperti sekarang, adalah hak untuk berbicara. Beruntunglah hak ini, secara teori, tidak mengenal batasan apapun, bahkan sampai ke lapisan paling sensitif, misalkan bangsa, ras, agama, gender suku, dan budaya. Simpelnya, setiap kepala yang lahir ke dunia ini, dia sudah dianugerahi hak untuk berbicara (berpendapat, berkomentar). Namun, harus kita sadari bahwa seseorang yang berhak melakukan sebuah tindakan gak berarti otomatis menjadi berkewajiban untuk melakukan kegiatan tersebut, dalam konteks ini adalah berkomentar atau berpendapat. 

Contohnya: Ada seorang pesohor tanah air sedang ditimpa masalah dalam rumah tangganya. Karena media memberitakannya tanpa henti, akhirnya jadilah permasalahan ini, yang seharusnya privat, booming dan dikonsumsi semua khalayak. Kalau berita tersebut nyampe kepada kita, sedikit banyak ada unek-unek yang muncul di kepala, karena kita adalah makhluk berakal dan sudah kenyang perutnya. Tindakan yang muncul selanjutnya adalah yang krusial. Di kolom komentar, di mana berita itu naik, hampir pasti ada warganet kelebihan duit dan waktu yang berkomentar. Perlu dicatat, mereka berhak untuk komentar! Yang menurut gw menjadi masalah adalah ketika seseorang tersebut merasa pengen banget seperti berasa punya kewajiban untuk berkomentar. Menurut gw bisa jadi masalah, karena ada banyak kasus-kasus lain yang bisa jadi makin panas bersumber dari komentar-komentar orang, hanya karena ada segelintir yang merasa "wajib" untuk komentar. Kasus rumah tangga mah hanya satu dari macam-macam kasus lain yang mungkin lebih sensitif dan ngeri-ngeri sedap.

Yang lebih unik adalah golongan seleb, entah itu -ritas, -gram, atau -twit. Gw memiliki kesan bahwa ada sebagian yang merasa punya kewajiban untuk komentar atas segala sesuatu yang lagi terjadi atau viral. Sekali lagi, mereka dan kita semua berhak untuk komentar. Apakah berhak berarti berkewajiban? Jangan mentang-mentang berhak kemudian lupa bahwa hak itu sifatnya bisa digunakan atau enggak. Apalagi hanya karena follower-nya banyak lantas merasa wajib untuk berkomentar. Gak wajib, gengs! Poin gw adalah menggunakan hak ini untuk hal-hal yang baik dan menggunakannya dengan bijak. Oh, ini udah 2020, ya?! Ada yang gw kelupaan.

Era post-modern kaya sekarang mah semua dibuat relatif, relatif terhadap interpretasi masing-masing. Syukur kalau diterima beberapa orang lain akan menjadi konsensus komunal. Maka tadi ketika gw bilang gunakan hak ini untuk yang baik, ukurannya pun jadi random dan bias. Silakan rumuskan sendiri standar apa yang mau dipake, termasuk standar ketika kalian berkomentar. Sila analisa sendiri apakah kalian sedang menggunakan hak dengan bijak, atau asal komentar aja karena gw berhak (dan secara ga sadar ngerasa punya kewajiban).  Jadi, marilah kita menggunakan hak dan kebebasan berpendapat ini dengan bijak. Marilah saling bertenggang rasa dan berempati kepada sesama penghuni dunia nyata dan juga dunia maya.

Jangan lupa jemur anduk kalau abis mandi!

Sekian.


Kamis, 09 Januari 2020

Gotong Royong Überall

06.00

(Disclaimer: Tidak bermaksud merendahkan seseorang atau golongan. Tidak juga menyepelekan suatu opini, apalagi merendahkan pelontarnya. Gw cuman pengen nawarin perspektif baru.)

Servus!


Gak kerasa gw udah menjalani kehidupan berumah tangga hampir setengah tahun. Ya, memang masih tergolong muda. Walau begitu gw udah banyak mendapatkan pelajaran tentang fase baru ini yang menjadi bagian dari perjalanan hidup gw. Kali ini gw mau berbagi  yang sedikit ini dalam menjalani rumah tangga. Kalau menginspirasi ya alhamdulillah, kalau enggak ya gak papa. Toh, gw cuman pengen cerita doang. Omong-omong, terima kasih ya sudah berkenan membaca cerita gw :)

Ini murni opini pribadi gw. Stereotipe atau paradigma yang berkembang di masyarakat, khususnya Indonesia, adalah istri bertugas mengurusi rumah dan suami yang bekerja. Karena suami sudah bekerja, beban pekerjaan rumah tangga diberikan seluruhnya kepada istri. Acap kali gw berpikir, kasihan juga perempuan. Dalam rumah tangga perannya tak ubah seperti asisten rumah tangga. Sebelum dilanjutkan, perlu digaris bawahi bahwa menjadi ibu rumah tangga bagi gw adalah hal yang luar biasa. Yang gw angkat adalah tema soal pembagian pekerjaan rumah tangga, bukan menyoal status ibu rumah tangga. Kalau lo gak setuju, silakan komentar di bawah. Siapa tau jadi bisa bertukar ide :)

Memang, konsep ideal dalam berumah tangga adalah gotong royong. Hanya saja konsep ini bisa diterjemahkan ke dalam berbagai macam bentuk pembagian tugas dalam rumah tangga. Gw selama enam bulan ini latihan untuk mengejawantahkan konsep gotong royong tersebut. Simpelnya adalah gw mengambil alih suatu pekerjaan rumah ketika istri gw sedang berhalangan untuk mengerjakannya, begitupun sebaliknya. Jadi, dalam konsep kami berumah tangga gak ada istilah, "ini kerjaan istri, gw gamau ikut campur". Mottonya adalah yang bisa gw kerjain akan gw kerjain. Alhamdulillah, motto tersebut sejauh ini berjalan dalam kehidupan kami sehari-hari.

Sebagai contoh, jika istri gw kuliah dan belum sempat mencuci pakaian kotor, maka gw akan ambil alih kerjaan tersebut selagi gw punya waktu lengang lebih banyak daripada istri. Mencuci pakaian jelas satu paket dengan menjemur. Karena gw mencuci dan istri gw sedang di luar rumah, maka dia yang bertugas belanja bahan makanan untuk nantinya dimasak. Jika gw sedang bepergian keluar dan kebetulan dekat dengan supermarket, maka gw menawarkan diri untuk belanja makanan. Soal masak pun demikian. Siapa yang lagi lengang, dia yang masak. Dengan begini konsep gotong royong (saling mendukung) pelan-pelan biasa kami jalani. Lagian, kenapa sih cowok-cowok seperti alergi gitu mengerjakan pekerjaan rumah? Kok kaya tabu banget gitu cowok turun tangan dalam pekerjaan rumah tangga?

Tolong dipahami gw gak menggeneralisasi. Kalau gak ngerasa, gak usah tersinggung. Kalau merasa, jangan marah-marah. Lebih baik introspeksi diri.

Gw paham cowok kerja untuk menafkahi keluarga, waktunya habis di kantor. Tapi, ada sebuah konsep menarik yang disampaikan salah seorang ustadz kondang perihal nafkah. Beliau mengatakan bahwa nafkah yang utama adalah sandang, pangan, dan papan. Idealnya, setiap poinnya itu dibagi lagi menjadi 3 bagian. Misalkan, menafkahi istri dalam konteks pangan ada 3 bagian. Mulai dari belanja, memasak, bahkan sampai sini pun belum lengkap tanggung jawab seorang lelaki dalam konteks menafkahi pangan. Jika ingin lengkap, maka seorang suami harus menyuapi makanan yang tadi dimasaknya, baru tunai kewajiban menafkahi istri. Memang ini terkesan berlebihan. Makanya tadi gw bilang ini adalah kondisi ideal. Poin yang ingin gw sampaikan adalah istri itu udah kaya ratu. Dia harus dipenuhi kebutuhannya dengan cara yang terbaik. Maka menurut gw harus hati-hati membebankan semua pekerjaan rumah kepada istri, karena bisa jadi sebenarnya pekerjaan rumah tersebut adalah tanggung jawab suami. Tentu istri diperbolehkan untuk membantu pekerjaan rumah. Ingat, untuk membantu, tanggung jawabnya tetaplah di pihak suami. 

Pada akhirnya, komunikasi dan inisiatif menjadi saat penting dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Selagi bisa, mudahkanlah beban istri, kerjakan yang lo bisa. Gw yakin tujuan lo yang menikah bukan untuk mencari asisten rumah tangga, tapi untuk mencari teman dalam mengarungi kehidupan. Dalam hal solidaritas bantuin temen mungkin lo udah khatam, bahkan lebih jago daripada gw. Yuk, coba solidaritas kepada teman ini digunakan juga dalam rumah tangga. Sejatinya istri adalah teman, bukan asisten rumah tangga. Iya, kan?

Jangan lupa simpen piring kotor di tempat cucian!

Sekian.

(Photo by Dan Gold on Unsplash)


Credit

Logo by : Cup graphic by Madebyoliver from Flaticon is licensed under CC BY 3.0. Made with Logo Maker